Laman

Rabu, 24 Juli 2013

Destiny (Part 4)

Riana memandang lawan bicaranya itu dengan perasaan sedih. Terlihat jelas guratan kesedihan di wajah Deffian.

"Mr Deffian, kalau Mr merasa tidak sanggup untuk menceritakannya tidak usah dipaksakan."

Deffian membuka matanya dan langsung memandang Riana lekat-lekat, membuat Riana tersentak kaget.

"Saya butuh teman untuk bicara Riana, selama ini saya memendamnya sendiri. Saya itu sangat gila kerja sampai saya tidak memiliki teman. Kamu mau jadi teman saya?" tanya Deffian mantap

Susah payah Riana menelan air liurnya, "Iya Mr saya bersedia menjadi teman Mr, kita akan menjadi teman yang menyenangkan."

"Ingat loh Riana, wanita yang berteman dan bersahabat dengan saya bisa menjadi pasangan saya." ucap Deffian sambil menyeringai menggoda Riana. Membuat Riana menjadi gelagapan, "Emm, hahahahahaha kalau jodoh mah gak ada yang tau Mr.

"Hahahaha iya, yasudah kamu boleh kembali keruangan kamu Riana. Lain kali kita lanjutkan ceritanya.

*********************************
"Kakak masih berpacaran dengan siapa itu namanya? Sesil?" tanya Manda yang baru sampai di ruangan kerja Deffian dan melihat foto Sesil.

"Masih?? Mulai aja engga, gimana bisa masih?" tanya Deffian balik.

"Terus ngapain foto perempuan itu ada di situ." Manda menunjuk ke arah foto Sesil, Deffian mengikuti arah tangan Manda menunjuk.

"Itu dia sendiri yang taruh. Udah berulang kali aku turunin, ujung-ujungnya ditaro lagi sama dia. Makannya aku diemin aja, males ngurusinnya."

"Ciih, dasar gak tau malu itu perempuan." ucap Manda dengan nada sinis. "Oia kak, semalam lagi ada badai gak disini?"

Deffin mendongakkan kepalanya dari berkas-berkas di atas mejanya sambil menaikkan sebelah alisnya kerah Manda yang sedang duduk di sofa.

"Badai? gak ada tuh."

"Ouw, well semalem Andrew ngehubungin Gue. Katanya dia mau balik ke In-do-ne-si-a"

Kali ini kedua alis Deffian terangkat.

"Mau ngapain dia kesini?"

"Katanya dia kesepian disana. Kakak, mama, dan papah ada di Indonesia, jadi yang di Belanda hanya aku dan Andrew. Sekarang aku juga ada disini, ya otomatis dia sendirian di sana."

"Kan dia banyak temen wanitanya, masa gak ada yang mau nemenin dia disana?"

Manda tertawa mendengar ucapan kakaknya, "Hahahahahaha, kalau masalah itu mana aku tau kakakku yang tampan, nanti kakak tanyakan aja sendiri kalau orangnya udah datang."

"Semoga dia gak bikin onar lagi sesampainya disini." Deffian bersandar di kursi kerjanya dan melihat lagit-langit ruangan kerjanya.

"Dia udah gak pernah pake begituan lagi kak, aku berani jamin itu. Barang itu semua udah dia tinggalkan, kecuali minum-minum dan wa-ni-ta."

"Hemm.. aku tau kalau itu." jawab Deffian dingin.

***************************************
Sekarang sudah menunjukan waktunya istirahat makan siang. Sila dan Riana sedang berjalan ke cafe di sebrang kantornya, sampai ada yang meneriaki namanya....

"Rianaaa..." sontak Sila dan Riana melihat ke belakang, ke sumber suara.

"Hay, Manda. Dari ruangan Mr. Deffian?"
"Yup, tepat sekali. Kalian mau makan siang ya?" ucapnya sambil menunjuk Sila dan Riana bergantian.

"Iya aku mau makan di cafe sebrang sama Sila. Oia, kenalkan ini Sila sahabat dan teman kerja ku."

"Hay, gue Amanda Febrian Rakassa, panggil aja Manda." ucap Manda seraya mengulurkan tangannya.
Sila melongo melihat wanita di depannya 'cantik sekali, jadi ini adiknya Deffian Rakassa, OMG gak kebayang bagaimana tampang kembarannya',
"Emm, hay aku Prisila Hutomo panggil aku Sila aja." sambil menyambut uluran tangan Manda.

"Ok ok ok, ayo ah kita ke cafe gue laper banget." ucap Manda dengan tawa sambil menarik tangan sila dan Riana menuju cafe.

***************************************
Sesampainya di cafe, mereka bertiga langsung memesan makanan. Semua mata tertuju kepada Manda. Bagaimana tidak, Manda memang benar-benar wanita yang sangat cantik dan menawan.

"Manda, kamu kok fasih banget sih bahasa Indonesianya?" tanya Sila dengan penasaran.

"Hehehehehehe, aku itu bukan orang Belanda 100%. Aku masih ada keturunan Indonesianya. Orang tuaku terkadang suka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari. Makannya aku dan kakak-kakakku bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat lancar."
"Kakak-kakak kamu?" tanya Sila bingung

"Yup, kakak pertamaku ya kak Deffian bos kalian berdua, hehehe. Sedangkan kakak keduaku ya sodara kembarku." jawab Manda sambil mengunyah wortel yang ada di piringnya.

"Kembaranmu ganteng?" tanya Sila antusias. Lalu kaki Sila mendapatkan injakan dari Riana karena pertanyaannya yang mengada-ada 'oh tuhan, apa di otak Sila hanya berisi laki-laki tampan?'. Sila mengaduh sambil melihat ke arah Riana, yang kemudian memelototi Sila.

Amanda terkekeh geli melihat ulah dua orang sahabat di depannya.

"Hemm,, gimana ya? Gini, menurutmu kak Deffian ganteng gak?" tanya Manda ke Sila.

"Pak Deffian itu bukannya ganteng. Tapi ganteng banget." Ujar Sila sumringah, Riana hanya memutar bola matanya.

"Hahahahahahaha, nah kalau kata orang-orang khususnya wanita, kembaranku itu lebih tampan dari pada kak Deffian." ujar Manda sambil mengedipkan matanya kepada Sila.

"Oh tuhan, yang bener Manda? Aku rasa aku akan pingsan kalau bertemu dengan kembaranmu itu." Manda dan Riana saling bertukar pandang lalu tertawa mendengar ucapan Sila.
"Hahahahahaha, kalau menurut kamu kak Deffian ganteng gak Ri?" tanya Manda mendadak kepada Riana.
Riana menaikkan kedua alisnya, "Mr. Deffian ya? Hem ganteng, pinter, baik, tapi sepertinya dia kesepian ya makannya dia jadi terlihat dingin."

"Lo bener banget Ri. Kakak gue itu sangat-sangat kesepian karena gila kerjanya itu. Hidupnya itu dia dedikasiin buat kerja,semenjak................" ucapan Manda terhenti.

Seakan Riana mengerti apa maksud Manda, iapun mengalihkan pembicaraannya. "Kamu akan tinggal seterusnya di Indonesia Manda?"

Manda tersadar dari lamunannya. "Eh, iya rencananya sih gitu." membuat Riana membentuk huruf 'O' dibibirnya yang mungil.

"Oia Manda siapa nama kembaran kamu?" tanya siapa lagi kalau bukan Sila.

"Namanya Andrew." jawab Manda enteng

Riana hampir saja menyemburkan lemon teanya demi mendengar Manda menyebut nama Andrew. 'Pasti bukan Andrew yang ia kenal kan?', 'yang namanya Andrew banyak kan ya?' pikir Riana.

"Ri.. Riana, lo gak kenapa-napa?" tanya Manda menangkap ekspresi aneh Riana.

"Eh...emm...iya...gu...gue gak kenapa-napa kok. Emm, Man kembaran lo, emm maksud gue Andrew kenapa gak ikut lo ke Indonesia?" tanya Riana, dan mulut Riana terasa gatal mengucapkan nama 'Andrew'

"Wah wah wah, kayaknya Riana tertarik ya sama Andrew." goda Sila, dan riana hanya menyipitkan matanya kepada sahabatnya itu.

"Gak tau juga sih ya, cuma kemaren dia ngabarin kalau mau balik kesini sih, cuma gak tau kapan."

Tiba-tiba handphone Riana berbunyi yang membuat Riana tersadar dari lamunannya dan menampilkan nama erik di layar handphonenya.

"Halo Rik."

"Halo princess, pastu lagi makan siang. Engga gini aku mau ngajakin kamu ke Bandung?"

"Ke Bandung? Mau ngapain?"

"Ya main aja By. Mengenang masa lalu, sekalian kita cari Keke, gimana?"

"Hemm,, mau kapan?"

"Kamis ini gimana, kan kita libur, terus lanjut libur panjang. nanti kita nginep di Bandung sambil nyari Keke, gimana deal?"

"Ok, deal."

"Ok kalau gitu kamu lanjut aja lunch, bye princess."
"Bye Erik." seraya menutup telfonnya.

"Siapa tuh? Pasti Erik Pratama?" tanya Sila sambil menyipitkan matanya.

"Yup, Erik siapa lagi." Riana terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya itu.

"Well, siapa tuh Erik? Pacar lo ya Ri?" tanya Manda kemudian.

"Hahahahahaha, bukan dia itu temen kecil gue. Ya, sahabat dari kecil dan baru beberapa hari lalu gue ketemu lagi sama dia."

"Dan dia juga ganteng loh Man." ya siapa lagi kalau bukan Sila yang bicara.

"Hahahahahahahaha, kayaknya semua cowo lo bilang ganteng deh Sil."

Ucapan manda membuat ketiganya tertawa riang sambil menghabiskan makan siangnya.

******************************
'Andrew' nama itu berdengung kencang di kepala Riana. Setelah sekian lama Riana coba melupakannya. Tiba-tiba ia teringat lagi dengan sosok itu ketika Amanda menyebutkan nama itu. Bukan salah Manda, mungkin saja bukan Andrew yang Riana kenal dan maksud. Namun tidak dapat dipungkiri dengat mendengar nama itu saja bisa membuat Riana bergidik ngeri dibuatnya.

******************************
Tiiing Tooong

Suara bel rumah Riana berbunyi. Yap, hari ini hari kamis waktunya dia dan Erik pergi ke Bandung. Riana sudah siap, dengan membawa tas ransel dan tas kecil untuk menaruh beberapa barang pribadinya, mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hijau, menggunakan jeans panjang hitam, dan mengikat kuda rambut panjangnya. Ia hanya memoles makeup natural untuk wajahnya yang memang sudah terlihat cantik.

"Halo, Erik." Riana membuka pintu 

"Halo princess gimana udah siap?"

"Yup!! Gue ngambil tas dulu ya" jawabnya bersemangat.

*****************************
"Rik, ini bakalan macet gak sih? Long weekend loh."

"Semoga belum macet Byta, kita kan juga jalannya masih pagi ini." ucap Erik yang fokus dengan jalanan dan melirik jam tangannya.

"Hemm.. semoga gak macet. Kalau sampe kena macet gue bakalan marah-marah sama lo." ucap Riana sambil memincingkan matanya ke arah Erik sambil terkekeh.

"Wah wah wah, masih Byta si tukang ngamuk,heh?? Gue percaya, karena baru beberapa minggu lalu gue kena omelan lo." ucap Erik seraya tertawa .
"Kena omelan gue? Kapan gue pernah ngomel-ngomel ke elo?" Riana menaikkan sebelah alisnya.

"Well, mungkin lo gak inget, sini gue ingetin. Lo inget lo pernah marah-marang di tengah jalan gak? Waktu itu lo naik motor, dan tiba-tiba mobil di depan lo ngerem mendadak. Terus lo marah-marah sama orang di dalam mobil itu?" Ujar Erik panjang lebar sambil terus melihat kedepan, sambil sesekali melirik Riana yang terbengong mendengar penjelasan Erik yang kemudian membuat Erik tertawa.

"Oh oh oh,,, jangan bilang kalau itu........" ucap Riana sambil menunjuk-nunjuk Erik

"Hahahahahahahahahaha, iya itu mobil gue, dan yang di dalem itu ya gue."

Refleks Riana memukul-mukul lengan besar Erik, sehingga Erik mengaduh kesakitan sambil menyeringai.

"Hah, dasar lo ini. Kalau bawa mau bawa mobil ya yang bener dikit Eriiiiik. Gue di belakang mobil lo itu hampir terjatuh tau gak?!!"

"Hahahahahahahahahahahahaha,, maafkan aku princess. Gue bakal ngabulin satu permintaan lo deh sebagai tanda permintaan maaf gue ke lo, gimana?"

"Hemm, menarik. Tapi gue belum mau minta apa-apa, jadi permintaan gue ditahan dulu ya. Tapi kalu gue minta sesuatu lo harus ngabulin ya??!!!"

"Ok, princess."

*******************************
Sesampainya di Bandung Erik dan Riana memutuskan untuk mendatangi taman tempat dulu mereka bermain bersama Keke tentunya. Perosotannya, ayunan, dan jungkat-jungkitnya masih sama, dan terdaapat beberapa permainan lainnya.

Riana dan Erik saling bertukar pandang lalu saling tersenyum dan tertawa. Pasti di dalam otak mereka berpikiran yang sama yaitu mengenai masa kecil mereka.

Lalu mereka memutuskan untuk kerumah Keke. Sesampainya di sana ternyata Keke dan keluarganya sudah pindah kurang lebih setahun yang lalu. Lalu Riana meminta alamat rumah Keke dan keluarganya yang baru kepada penghuni rumah Keke yang lama.

"Ri, makan dulu yuk. Laper banget gue." Erik memarkirkan mobilnya menuju sebuah tempat yang menjajakan tenda penjualan makanan.

"Yaudah yuk, gue juga laper. Mau makan dimana kita?" ujar Riana sambil merangkul tangan Erik yang kekar, dan melihat-lihat beberapa tenda makanan.

Erik tersentak kaget dengan rangkulan Riana di tangannya, ia menoleh ke rangkulan tangannya, lalu beralih ke Riana yang berada di sampingnya dan tersenyum hangat. Namun tidak dilihat oleh Riana.

"Makan itu aja yuk Rik?" Tunjuk Riana yang membuat Erik tersadar dari pikirannya sendiri. Erik melihat arah yang ditunjuk Riana, itu tenda makanan sate, ya Riana memang suka sekali sate.
"Ok, let's go!!"

*******************************
Karena sibuk makan dan berbincang-bincang sambil bercanda membuat mereka melupakan waktu yang sudah beranjak malam. Erik dan Riana memutuskan untuk mencari penginapan dan melanjutkan mencari Keke besok.

Erik dan Riana menginap di sebuh penginapan yang tidak terlalu besar namun nyaman. Erik memesan kamar dua bersebelahan. Setelah mereka masuk ke kamar masing-masing, mereka langsung terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.

*******************************
Pagi menjelang, tepat pukul 9 Riana dan Erik sudah siap melanjutkan perjalanan mereka. Erik memacu kendaraanya ketempat alamat yang sudah mereka dapatkan kemarin.

Dan, disinilah mereka berada di depan rumah yang cantik dengan halaman luas penuh dengan berbagai macam bunga. 

Tok tok tok, Riana mengetok pintunya.

Cekleek, pintu terbuka dan.......

"KEKE!!!!" teriak Riana
"FALRIANA!!!" tariak Keke tak kalah nyaringnya, mereka berpelukan dan saling meloncat-loncat bagai kangguru. Lalu, keke menengok kebelakang tubuh Riana....

"Dia siapa Ri? Pacar lo?" tunjuknya mengarah ke Erik

"Lo lupa sama dia Ke? Lo lupa sama si ce-ng-eng, heh?" tanya Riana sambil menyeringai.

Keke meunjuk-nunjuk ke arah Erik, "YA AMPUN ERIIIIIK!!" teriak Keke lagi, lalu memeluk Erik yang disambut Erik hangat.

"Ya ya ya, kenapa giliran Byta ngomong 'cengeng' lo baru inget gw,heh?" tanya Erik dengak senyum sambil melepas pelukannya.

"Hahahahahahahaha, gila lo beda banget Rik. Sekarang...... tambah ganteng, gagah, dan.. hey, kenapa sekarang lo jadi tinggi gini sih?" dan mereka bertiga pun tertawa terbahak-bahak.

Lalu, Keke menarik tangan Erik dan Riana masuk ke rumahnya. Orang tua Keke sedang keluar rumah, jadi Keke sedang bersama pembantu rumah tangganya. Keke merupakan anak tunggal.

"Nah sekarang jelasin kenapa lo ngilang gitu aja Keke Suganda?" todong Riana

"Oke oke, beberapa waktu itu mobil gue sempet kerampokan Ri. Mobil gue di bobol orang waktu gue lagi ke supermarket. dan ya semua barang-barang gue yang ada di mobil digasak abis. Laptop, hp, semua gadget gue lah pokoknya. Terus gak lama dari itu gue pindah kesini, dan gue lagi sibuk banget di kantor princess, jadi belum sempat ngabarin lo." ujar Keke panjang lebar. 

"Gue kira lo nikah diem-diem terus gak ngasih tau gue hahaha." mereka bertiga terkekeh geli.

"Nah sekarang kenapa Lo bisa kesini sama Erik?" sekarang Keke yang menuntut penjelasan. Maka, Riana dan Erik bercerita bergantian untuk menjelaskan kepada Keke.

"Ouw jadi lo berdua sekarang tinggal di Jakarta ya? Gue sendiri deh di Bandung." 

"Hahahahahaha, jangan lebai lah Keke. Gue sama Riana juga bisa kok main ke sini. Bandung - Jakarta, apa jauhnya sih?" ujar Erik seraya merebahkan badannya di sofa.
Sedang asik mereka bercerita, tiba-tiba orang tua Keke datang. Seperti dugaan Riana berteriak heboh sambil memeluk kedua orang tua Keke, karena Riana sudah menaganggap orang tua Keke seperti orang tuanya sendiri. Lalu orang tua Keke juga sempat terkejut melihat Erik juga ada di rumah mereka.

Keke meminta kepada orang tuanya agar membiarkan Riana dan Erik menginap, dan langsung diiyakan. Erik tidur di kamar tamu, dan Riana tidur bersama Keke.

"Well, gimana Jakarta? Giama kerjaan lo?" tanya Keke ketika ia dan Riana sedang merebahkan diri di kasur dan melihat langit-langit kamar.

"Sejauh ini baik-baik aja, Ke. Bos gue baik, dan ya biasa Sila yang selalu terobsesi dengan laki-laki ganteng"

"Hahahahahaha, udah lama banget gue gak ketemu itu anak. Pasti dia histeris ya ketemu sama Erik." ya beberapa kali Riana membawa Sila untuk bertemu dengan Keke.

"Hahahahaha, dia sampe melongo Ke. Jangankan Sila, gue aja melongo ngeliat Erik pertama kali Keke. Dia beda banget ya?"

"Haha, iya beda ya. Tambah gagah. Eh, tapi gagahan mana sama bos lo itu, siapa namanya?"

"Deffian.... hahahahaha dua-duanya sama-sama ganteng, gagah dan yang penting sama-sama baik."

"Hahahaha....." Keke tertawa mendengar perkataan Riana

"Deffian itu punya adik kembar Ke."

"Oia? Wah seru ya kayaknya punya sodara apa lagi kembar."

"Iya mungkin, adiknya itu cowo cewe. Yang cewe cantik, ya campuran Belanda Indonesia. Namanya Amanda." ujar Riana sambil terus menatap langit-langit kamar.

"Kalau yang cowo? Ganteng pasti." tanya keke antusias

Riana menarik nafas panjang. "Gue belum tau tampangnya gimana. Gue baru tau namanya...... Andrew."
Keke langsung menghadap berguling miring menghadap Riana, tangan kirinya dia gunakan untuk menopang kepalanya.....

"Andrew?? Tenang ya Byta, pasti dia bukan..........."

"Gue gak tau Keke, gue belum ketemu. Gue berharap emang bukan." ucap Riana dengan keraguan yang jelas terasa diucapannya.

"Gue gak berani ngebayangin By."

"Me too, gue gak mau hidup bagai di neraka Ke." ucar Riana sambil mengusap mukanya dengan kedua tangannya.

"Ok ok, gini. Lo harus berpikir positif ok. Di dunia ini banyak yang namanya Andrew, ok. Belum tentu itu dia, ok." ucap Keke meyakinkan Riana

"Ok keke sayang, sekarang tuk ah tidur. besok kita jalan-jalan. Gue udah kangen sama Bandung.

**********************************
"Ya tuhan, aku rindu udara kaya gini." ujar Riana sambil merentankan tangannya menyambut udara pagi.

"Hahaha, di Jakarta gak ada ya By? tanya Keke terkekeh melihat tingkat Riana."

"Yah, boro-boro deh." Riana mengendus kesal.

"Yaudah lo tinggal disini aja lagi, Ri." Ucap Erik enteng.

"Hey bung enak sekali kau bicara, hah. Bagaimana dengan kerjaanku?" lagi-lagi Riana mengendus kesal.
Keke dan Erik tertawa kecil. mereka bertiga sedang sarapan di taman rumah Keke yang luas dan begitu cantik.

Hari ini mereka bertiga pergi berjalan sepuas-puasnya, mereka berwisata kuliner, ketempat bermain, dan berfoto-foto. Ketika mereka berjalan bertiga banyak mata perempuan yang tertuju pada Erik. Begitu juga pada mata laki-laki yang memandang Keke, bagaimana tidak Keke merupakan keturunan Indonesia-Turki yang cantik.

Mereka bergantian dalam mengemudikan mobil. Ketika Erik yang mengemudikan Riana berada di sampingnya, dan Keke di jok belakang. Ketika Riana yang yang membawa Keke lah yang berada di sampingnya dan Erik di belakang. Ketika Keke yang membawanya Eriklah yang ada di sampin dan Riana tertidur anteng di jok belakang.

Sesampainya di rumah Keke. mereka tertidur dengan pulasnya di ruang tv. Sampai-sampai Ibu Keke harus menyelimuti mereka bertiga yang sudah terlelap karena kecapean pergi seharian. Pagi menjelang Riana dan Erik harus kembali ke Jakarta. Walaupun sedih keke membiarkan mereka pulang, karena memang besok sudah senin dan mereka memiliki kesibukan masing-masing.

********************************
"Gimana long weekendnya cantik." tanya Sila dengan senyum manis.

"Hemm, sangat menyenangkan. Akhirnya kita bertiga kumpul lagi kemarin." Riana menunjukan foto mereka bertiga yang sedang tertawa bahagia.

"Keke makin cantik aja ya, Ri."

"Iya dia memang dasarya udah cantik Sil, jadi ya cantik aja, hahaha."

"Kamu juga cantik kok sayang." Ujar Sila seraya memonyongkan bibirnya yang hendak menyium Riana.

"Iiiis, apaan deh Sil geli banget kamu." elak Riana yang menjauhkan dirinya dari Sila.

"Hahahahahaha......" tawa Sila terdengar di penjuru ruangan. "Eh iya tadi aku berpapasan dengan manda, dia nanyain kamu. Aku jawab aja belum datang." lanjut Sila.

"Nyari aku? Ada apa ya?" tanya Riana heran.

"Wah wah wah, aku gak tau tuh."

"Pagi pagi pagi girl. Pasti lagi ngegosip ya." sama Manda yang mengagetkan Sila dan Riana.
"Hehehehe.... Gak lagi ngegosip kok, Man." Ucap Sila dengan senyuman

"Eh, nanti kita makan siang lagi ya." ujar Riana bersemangat. Sila mengangguk dengan semangat.

"Yah sayang banget gue gak bisa. Gue harus ke bandara." Ucap Manda dengan menyesal.

"Yah, kamu mau kemana? Mau balik ke Belanda?" tanya Sila cemas. Riana jadi mengerutkan keningnya, jangan-jangan.......................

"Haha, engga gue mau jemput pangeran kembaran gue."

Ya!! Benar saja dugaan Riana.

"Asiik, akhirnya datang juga!!" Ujar Sila bersemangat nyaris berteriak.

"Sila, bikin malu aja deh." omel Riana. Sila hanya menjulurkan lidahnya ke arah riana lalu tertawa.

Manda jadi terkekeh, "Ok deh gue ke ruangan kak Deffian dulu ya, bye."

******************************
Di bandara Amanda terus menunggu kedatangan Andrew. Sampai ia menemukan orang yang dia cari.

Ya, pasti kehadiran Andrew menjadi daya tarik perempuan-perempuan tidak terkecuali kali ini. Dia memiliki mata biru jernih, tatapan tajam, senyuman yang mematikan yang bisa membuat wanita-wanita terasa terbakar. Rambutnya coklat terang dengan hidung mancung dan bibir sensual. Tubuh atletis dan tinggi tegap, tak heran dia disegani laki-laki dan digilai oleh wanita.

"Hay, sayangku yang cantik." ucap andrew sambil memeluk Amanda dengan erat dan mencium pipinya mesra. Orang yang tidak tau akan mengira mereka berdua merupakan pasangan kekasih.

Manda melepaskan pelukan Andrew, "Very good. Cuma ya, gak tau kedepannya gimana." 

"Hahaha, tenang honey hari-hari mua pasti akan lebih berwarna." seringainya sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Stop Andrew tingkahmu sungguh menjijikan. Kau tidak melihat perempuan sekitar sini menatap ke arak kita." kata Manda sambil melirik kanan kiri.  Andrew malah melihat ke sekeliling dan memberikan senyuman mautnya, membuat Manda jengkel setengah mati kepada Andrew. Lalu mereka menuju rumah mereka.

***********************************
Malam tiba di kediaman Rakassa, Daffin baru pulang dari kantornya.

"Hey kakak tua!!!" ujar pembuat onar, Deffian sudah menghapal suara Andrew.
Deffian enengok ke asal suara dan menemukan seluruh keluarganya tengah berkumpul, ayah, ibu, Amanda dan Andrew.

"Ya, si pembuat onar sudah datang." ujar Deffian dingin, malas meladeni adiknya itu. Lalu dia merebahkan diri di samping Manda.

"Wehehe, relaxed boy. Masih saja bersikap dingin, heh?" tanya Andrew dingin. Ya Andrew dan Deffian memang seperti Tom an Jerry.

"Udah-udah, kalian udah gede masih aja ribut. Kamu Andrew, kakak mu baru pulang malah diledek seperti itu." ujar ibu Daffin.

"Mom, dianya aja yang terlalu kaku." tunjuk Andrew ke arah Deffian yang ada di hadapannya. manda hanya menggeleng-geleng melihat kedua kakaknya.

"Andrew, mulai besok kamu pergi kekantor bersama kakakmu." ujar ayah Daffin tiba-tiba.

"Tapi Dad, kenapa harus aku. Kenapa bukannya Manda?" kali ini Andrew menunjuk Manda.

"Hey, watch your mouth!!" ucap Manda terpancing emosinya.

"Enough. Daddy bilang kamu ya kamu Ndrew. Kalau kamu gak mau, kamu bail lagi ke Belanda." ujar ayahnya tegas.
"Ok, ok Dad." Ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

"Well, diantara kalian bertiga siapa yang mau menikah?" tanya Ibu mereka. Mereka bertiga langsung terbelalak mendengar ucapan Ibunya itu.

"Mom!" Teriak mereka bertiga berbarengan. Ibunya hanya menutup kupingnya.

"Loh apanya yang salah, Deffian sudah berumur 29, Manda dan kamu Ndrew udah berumur 26. Mommy mau cepet-cepet dapet cucu. Iya gak dad?" tanya Ibu mereka kepada Ayah mereka mencari pembelaan, yang hanya dijawab anggukan.

"Ya, yang paling tua disini dong." Kata Andrew sambil melirik Deffian.

"Kenapa gak lo duluan aja. Kan cewe lo banyak. Ada siapa tun, Bela, Jessy, Lucy, nah nah yang paling baru siapa tuh lupa gw hemm.... oia Clara" bela Manda terhadap Deffian, karena omongan Andrew.

Karena kesal Andrew melemparkan bantal sofa ke arah muka Manda, Deffian hanya tertawa kecil melihat tingkah adik-adiknya ini.

"Kalau gue bakalan nikah sama orang yang gue cintai. Dia ada disni." jawab Andrew seraya mengangket kedua tangannya dam membawanya kepelakang kepala untuk menopang kelapanya yang bersandar ke belakang. Sontak semua mata memandang ke arahnya.
"Siapa?" tanya Ibu dan Manda berbarengan.

"Hemm, secret!! Pokoknya dia ada di Indonesia. Dan kalau gw Andrew udah nemuin dia, dia gak akan aku lepaskan lagi." ucap Andrew penuh keyakinan. 

'Ya, gak akan aku lepaskan lagi. Taby, dia gak akan aku lepaskan lagi.' janjinya dalam hati.


****************************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar