Riana
memandang lawan bicaranya itu dengan perasaan sedih. Terlihat jelas guratan
kesedihan di wajah Deffian.
"Mr
Deffian, kalau Mr merasa tidak sanggup untuk menceritakannya tidak usah
dipaksakan."
Deffian
membuka matanya dan langsung memandang Riana lekat-lekat, membuat Riana
tersentak kaget.
"Saya
butuh teman untuk bicara Riana, selama ini saya memendamnya sendiri. Saya itu
sangat gila kerja sampai saya tidak memiliki teman. Kamu mau jadi teman
saya?" tanya Deffian mantap
Susah
payah Riana menelan air liurnya, "Iya Mr saya bersedia menjadi teman Mr,
kita akan menjadi teman yang menyenangkan."
"Ingat
loh Riana, wanita yang berteman dan bersahabat dengan saya bisa menjadi
pasangan saya." ucap Deffian sambil menyeringai menggoda Riana. Membuat
Riana menjadi gelagapan, "Emm, hahahahahaha kalau jodoh mah gak ada yang
tau Mr.
"Hahahaha
iya, yasudah kamu boleh kembali keruangan kamu Riana. Lain kali kita lanjutkan
ceritanya.
*********************************
"Kakak
masih berpacaran dengan siapa itu namanya? Sesil?" tanya Manda yang baru
sampai di ruangan kerja Deffian dan melihat foto Sesil.
"Masih??
Mulai aja engga, gimana bisa masih?" tanya Deffian balik.
"Terus
ngapain foto perempuan itu ada di situ." Manda menunjuk ke arah foto Sesil,
Deffian mengikuti arah tangan Manda menunjuk.
"Itu
dia sendiri yang taruh. Udah berulang kali aku turunin, ujung-ujungnya ditaro
lagi sama dia. Makannya aku diemin aja, males ngurusinnya."
"Ciih,
dasar gak tau malu itu perempuan." ucap Manda dengan nada sinis. "Oia
kak, semalam lagi ada badai gak disini?"
Deffin
mendongakkan kepalanya dari berkas-berkas di atas mejanya sambil menaikkan
sebelah alisnya kerah Manda yang sedang duduk di sofa.
"Badai?
gak ada tuh."
"Ouw,
well semalem Andrew ngehubungin Gue.
Katanya dia mau balik ke In-do-ne-si-a"
Kali ini
kedua alis Deffian terangkat.
"Mau
ngapain dia kesini?"
"Katanya
dia kesepian disana. Kakak, mama, dan papah ada di Indonesia, jadi yang di
Belanda hanya aku dan Andrew. Sekarang aku juga ada disini, ya otomatis dia
sendirian di sana."
"Kan
dia banyak temen wanitanya, masa gak ada yang mau nemenin dia disana?"
Manda
tertawa mendengar ucapan kakaknya, "Hahahahahaha, kalau masalah itu mana
aku tau kakakku yang tampan, nanti kakak tanyakan aja sendiri kalau orangnya
udah datang."
"Semoga
dia gak bikin onar lagi sesampainya disini." Deffian bersandar di kursi
kerjanya dan melihat lagit-langit ruangan kerjanya.
"Dia
udah gak pernah pake begituan lagi kak, aku berani jamin itu. Barang itu semua
udah dia tinggalkan, kecuali minum-minum dan wa-ni-ta."
"Hemm..
aku tau kalau itu." jawab Deffian dingin.
***************************************
Sekarang
sudah menunjukan waktunya istirahat makan siang. Sila dan Riana sedang berjalan
ke cafe di sebrang kantornya, sampai ada yang meneriaki namanya....
"Rianaaa..."
sontak Sila dan Riana melihat ke belakang, ke sumber suara.
"Hay,
Manda. Dari ruangan Mr. Deffian?"
"Yup,
tepat sekali. Kalian mau makan siang ya?" ucapnya sambil menunjuk Sila dan
Riana bergantian.
"Iya
aku mau makan di cafe sebrang sama Sila. Oia, kenalkan ini Sila sahabat dan
teman kerja ku."
"Hay,
gue Amanda Febrian Rakassa, panggil aja Manda." ucap Manda seraya
mengulurkan tangannya.
Sila melongo melihat
wanita di depannya 'cantik sekali, jadi ini adiknya Deffian Rakassa, OMG gak
kebayang bagaimana tampang kembarannya',
"Emm,
hay aku Prisila Hutomo panggil aku Sila aja." sambil menyambut uluran
tangan Manda.
"Ok
ok ok, ayo ah kita ke cafe gue laper banget." ucap Manda dengan tawa
sambil menarik tangan sila dan Riana menuju cafe.
***************************************
Sesampainya
di cafe, mereka bertiga langsung memesan makanan. Semua mata tertuju kepada
Manda. Bagaimana tidak, Manda memang benar-benar wanita yang sangat cantik dan
menawan.
"Manda,
kamu kok fasih banget sih bahasa Indonesianya?" tanya Sila dengan
penasaran.
"Hehehehehehe,
aku itu bukan orang Belanda 100%. Aku masih ada keturunan Indonesianya. Orang
tuaku terkadang suka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi
sehari-hari. Makannya aku dan kakak-kakakku bisa menggunakan bahasa Indonesia
dengan sangat lancar."
"Kakak-kakak
kamu?" tanya Sila bingung
"Yup,
kakak pertamaku ya kak Deffian bos kalian berdua, hehehe. Sedangkan kakak
keduaku ya sodara kembarku." jawab Manda sambil mengunyah wortel yang ada
di piringnya.
"Kembaranmu
ganteng?" tanya Sila antusias. Lalu kaki Sila mendapatkan injakan dari
Riana karena pertanyaannya yang mengada-ada 'oh tuhan, apa di otak Sila hanya
berisi laki-laki tampan?'. Sila mengaduh sambil melihat ke arah Riana, yang
kemudian memelototi Sila.
Amanda
terkekeh geli melihat ulah dua orang sahabat di depannya.
"Hemm,,
gimana ya? Gini, menurutmu kak Deffian ganteng gak?" tanya Manda ke Sila.
"Pak
Deffian itu bukannya ganteng. Tapi ganteng banget." Ujar Sila sumringah,
Riana hanya memutar bola matanya.
"Hahahahahahaha,
nah kalau kata orang-orang khususnya wanita, kembaranku itu lebih tampan dari
pada kak Deffian." ujar Manda sambil mengedipkan matanya kepada Sila.
"Oh
tuhan, yang bener Manda? Aku rasa aku akan pingsan kalau bertemu dengan
kembaranmu itu." Manda dan Riana saling bertukar pandang lalu tertawa
mendengar ucapan Sila.
"Hahahahahaha,
kalau menurut kamu kak Deffian ganteng gak Ri?" tanya Manda mendadak
kepada Riana.
Riana menaikkan kedua
alisnya, "Mr. Deffian ya? Hem ganteng, pinter, baik, tapi sepertinya dia
kesepian ya makannya dia jadi terlihat dingin."
"Lo
bener banget Ri. Kakak gue itu sangat-sangat kesepian karena gila kerjanya itu.
Hidupnya itu dia dedikasiin buat kerja,semenjak................" ucapan
Manda terhenti.
Seakan
Riana mengerti apa maksud Manda, iapun mengalihkan pembicaraannya. "Kamu
akan tinggal seterusnya di Indonesia Manda?"
Manda
tersadar dari lamunannya. "Eh, iya rencananya sih gitu." membuat
Riana membentuk huruf 'O' dibibirnya yang mungil.
"Oia
Manda siapa nama kembaran kamu?" tanya siapa lagi kalau bukan Sila.
"Namanya
Andrew." jawab Manda enteng
Riana
hampir saja menyemburkan lemon teanya demi mendengar Manda menyebut nama
Andrew. 'Pasti bukan Andrew yang ia kenal kan?', 'yang namanya Andrew banyak
kan ya?' pikir Riana.
"Ri..
Riana, lo gak kenapa-napa?" tanya Manda menangkap ekspresi aneh Riana.
"Eh...emm...iya...gu...gue
gak kenapa-napa kok. Emm, Man kembaran lo, emm maksud gue Andrew kenapa gak
ikut lo ke Indonesia?" tanya Riana, dan mulut Riana terasa gatal
mengucapkan nama 'Andrew'
"Wah
wah wah, kayaknya Riana tertarik ya sama Andrew." goda Sila, dan riana
hanya menyipitkan matanya kepada sahabatnya itu.
"Gak
tau juga sih ya, cuma kemaren dia ngabarin kalau mau balik kesini sih, cuma gak
tau kapan."
Tiba-tiba
handphone Riana berbunyi yang membuat Riana tersadar dari lamunannya dan
menampilkan nama erik di layar handphonenya.
"Halo
Rik."
"Halo
princess, pastu lagi makan siang.
Engga gini aku mau ngajakin kamu ke Bandung?"
"Ke
Bandung? Mau ngapain?"
"Ya
main aja By. Mengenang masa lalu, sekalian kita cari Keke, gimana?"
"Hemm,,
mau kapan?"
"Kamis
ini gimana, kan kita libur, terus lanjut libur panjang. nanti kita nginep di
Bandung sambil nyari Keke, gimana deal?"
"Ok,
deal."
"Ok
kalau gitu kamu lanjut aja lunch,
bye princess."
"Bye Erik." seraya menutup
telfonnya.
"Siapa
tuh? Pasti Erik Pratama?" tanya Sila sambil menyipitkan matanya.
"Yup,
Erik siapa lagi." Riana terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Well, siapa tuh Erik? Pacar lo ya
Ri?" tanya Manda kemudian.
"Hahahahahaha,
bukan dia itu temen kecil gue. Ya, sahabat dari kecil dan baru beberapa hari
lalu gue ketemu lagi sama dia."
"Dan
dia juga ganteng loh Man." ya siapa lagi kalau bukan Sila yang bicara.
"Hahahahahahahaha,
kayaknya semua cowo lo bilang ganteng deh Sil."
Ucapan
manda membuat ketiganya tertawa riang sambil menghabiskan makan siangnya.
******************************
'Andrew'
nama itu berdengung kencang di kepala Riana. Setelah sekian lama Riana coba
melupakannya. Tiba-tiba ia teringat lagi dengan sosok itu ketika Amanda
menyebutkan nama itu. Bukan salah Manda, mungkin saja bukan Andrew yang Riana
kenal dan maksud. Namun tidak dapat dipungkiri dengat mendengar nama itu saja
bisa membuat Riana bergidik ngeri dibuatnya.
******************************
Tiiing Tooong
Suara
bel rumah Riana berbunyi. Yap, hari ini hari kamis waktunya dia dan Erik pergi
ke Bandung. Riana sudah siap, dengan membawa tas ransel dan tas kecil untuk
menaruh beberapa barang pribadinya, mengenakan kaos berlengan panjang berwarna
hijau, menggunakan jeans panjang hitam, dan mengikat kuda rambut panjangnya. Ia
hanya memoles makeup natural untuk wajahnya yang memang sudah terlihat cantik.
"Halo,
Erik." Riana membuka pintu
"Halo
princess gimana udah siap?"
"Yup!!
Gue ngambil tas dulu ya" jawabnya bersemangat.
*****************************
"Rik,
ini bakalan macet gak sih? Long weekend
loh."
"Semoga
belum macet Byta, kita kan juga jalannya masih pagi ini." ucap Erik yang
fokus dengan jalanan dan melirik jam tangannya.
"Hemm..
semoga gak macet. Kalau sampe kena macet gue bakalan marah-marah sama lo."
ucap Riana sambil memincingkan matanya ke arah Erik sambil terkekeh.
"Wah
wah wah, masih Byta si tukang ngamuk,heh?? Gue percaya, karena baru beberapa
minggu lalu gue kena omelan lo." ucap Erik seraya tertawa .
"Kena
omelan gue? Kapan gue pernah ngomel-ngomel ke elo?" Riana menaikkan
sebelah alisnya.
"Well, mungkin lo gak inget, sini gue
ingetin. Lo inget lo pernah marah-marang di tengah jalan gak? Waktu itu lo naik
motor, dan tiba-tiba mobil di depan lo ngerem mendadak. Terus lo marah-marah
sama orang di dalam mobil itu?" Ujar Erik panjang lebar sambil terus
melihat kedepan, sambil sesekali melirik Riana yang terbengong mendengar
penjelasan Erik yang kemudian membuat Erik tertawa.
"Oh
oh oh,,, jangan bilang kalau itu........" ucap Riana sambil
menunjuk-nunjuk Erik
"Hahahahahahahahahaha,
iya itu mobil gue, dan yang di dalem itu ya gue."
Refleks
Riana memukul-mukul lengan besar Erik, sehingga Erik mengaduh kesakitan sambil
menyeringai.
"Hah,
dasar lo ini. Kalau bawa mau bawa mobil ya yang bener dikit Eriiiiik. Gue di
belakang mobil lo itu hampir terjatuh tau gak?!!"
"Hahahahahahahahahahahahaha,,
maafkan aku princess. Gue bakal
ngabulin satu permintaan lo deh sebagai tanda permintaan maaf gue ke lo,
gimana?"
"Hemm,
menarik. Tapi gue belum mau minta apa-apa, jadi permintaan gue ditahan dulu ya.
Tapi kalu gue minta sesuatu lo harus ngabulin ya??!!!"
"Ok, princess."
*******************************
Sesampainya
di Bandung Erik dan Riana memutuskan untuk mendatangi taman tempat dulu mereka
bermain bersama Keke tentunya. Perosotannya, ayunan, dan jungkat-jungkitnya
masih sama, dan terdaapat beberapa permainan lainnya.
Riana
dan Erik saling bertukar pandang lalu saling tersenyum dan tertawa. Pasti di
dalam otak mereka berpikiran yang sama yaitu mengenai masa kecil mereka.
Lalu
mereka memutuskan untuk kerumah Keke. Sesampainya di sana ternyata Keke dan
keluarganya sudah pindah kurang lebih setahun yang lalu. Lalu Riana meminta
alamat rumah Keke dan keluarganya yang baru kepada penghuni rumah Keke yang
lama.
"Ri,
makan dulu yuk. Laper banget gue." Erik memarkirkan mobilnya menuju sebuah
tempat yang menjajakan tenda penjualan makanan.
"Yaudah
yuk, gue juga laper. Mau makan dimana kita?" ujar Riana sambil merangkul
tangan Erik yang kekar, dan melihat-lihat beberapa tenda makanan.
Erik
tersentak kaget dengan rangkulan Riana di tangannya, ia menoleh ke rangkulan
tangannya, lalu beralih ke Riana yang berada di sampingnya dan tersenyum
hangat. Namun tidak dilihat oleh Riana.
"Makan
itu aja yuk Rik?" Tunjuk Riana yang membuat Erik tersadar dari pikirannya
sendiri. Erik melihat arah yang ditunjuk Riana, itu tenda makanan sate, ya
Riana memang suka sekali sate.
"Ok, let's go!!"
*******************************
Karena
sibuk makan dan berbincang-bincang sambil bercanda membuat mereka melupakan
waktu yang sudah beranjak malam. Erik dan Riana memutuskan untuk mencari
penginapan dan melanjutkan mencari Keke besok.
Erik dan
Riana menginap di sebuh penginapan yang tidak terlalu besar namun nyaman. Erik
memesan kamar dua bersebelahan. Setelah mereka masuk ke kamar masing-masing,
mereka langsung terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
*******************************
Pagi
menjelang, tepat pukul 9 Riana dan Erik sudah siap melanjutkan perjalanan mereka.
Erik memacu kendaraanya ketempat alamat yang sudah mereka dapatkan kemarin.
Dan,
disinilah mereka berada di depan rumah yang cantik dengan halaman luas penuh
dengan berbagai macam bunga.
Tok tok tok, Riana mengetok pintunya.
Cekleek,
pintu terbuka dan.......
"KEKE!!!!"
teriak Riana
"FALRIANA!!!"
tariak Keke tak kalah nyaringnya, mereka berpelukan dan saling meloncat-loncat
bagai kangguru. Lalu, keke menengok kebelakang tubuh Riana....
"Dia
siapa Ri? Pacar lo?" tunjuknya mengarah ke Erik
"Lo
lupa sama dia Ke? Lo lupa sama si ce-ng-eng, heh?" tanya Riana sambil
menyeringai.
Keke
meunjuk-nunjuk ke arah Erik, "YA AMPUN ERIIIIIK!!" teriak Keke lagi,
lalu memeluk Erik yang disambut Erik hangat.
"Ya
ya ya, kenapa giliran Byta ngomong 'cengeng' lo baru inget gw,heh?" tanya
Erik dengak senyum sambil melepas pelukannya.
"Hahahahahahahaha,
gila lo beda banget Rik. Sekarang...... tambah ganteng, gagah, dan.. hey,
kenapa sekarang lo jadi tinggi gini sih?" dan mereka bertiga pun tertawa
terbahak-bahak.
Lalu,
Keke menarik tangan Erik dan Riana masuk ke rumahnya. Orang tua Keke sedang
keluar rumah, jadi Keke sedang bersama pembantu rumah tangganya. Keke merupakan
anak tunggal.
"Nah
sekarang jelasin kenapa lo ngilang gitu aja Keke Suganda?" todong Riana
"Oke
oke, beberapa waktu itu mobil gue sempet kerampokan Ri. Mobil gue di bobol
orang waktu gue lagi ke supermarket. dan ya semua barang-barang gue yang ada di
mobil digasak abis. Laptop, hp, semua gadget gue lah pokoknya. Terus gak lama
dari itu gue pindah kesini, dan gue lagi sibuk banget di kantor princess, jadi belum sempat ngabarin
lo." ujar Keke panjang lebar.
"Gue
kira lo nikah diem-diem terus gak ngasih tau gue hahaha." mereka bertiga
terkekeh geli.
"Nah
sekarang kenapa Lo bisa kesini sama Erik?" sekarang Keke yang menuntut
penjelasan. Maka, Riana dan Erik bercerita bergantian untuk menjelaskan kepada
Keke.
"Ouw
jadi lo berdua sekarang tinggal di Jakarta ya? Gue sendiri deh di
Bandung."
"Hahahahahaha,
jangan lebai lah Keke. Gue sama Riana juga bisa kok main ke sini. Bandung -
Jakarta, apa jauhnya sih?" ujar Erik seraya merebahkan badannya di sofa.
Sedang asik mereka
bercerita, tiba-tiba orang tua Keke datang. Seperti dugaan Riana berteriak
heboh sambil memeluk kedua orang tua Keke, karena Riana sudah menaganggap orang
tua Keke seperti orang tuanya sendiri. Lalu orang tua Keke juga sempat terkejut
melihat Erik juga ada di rumah mereka.
Keke
meminta kepada orang tuanya agar membiarkan Riana dan Erik menginap, dan
langsung diiyakan. Erik tidur di kamar tamu, dan Riana tidur bersama Keke.
"Well, gimana Jakarta? Giama kerjaan
lo?" tanya Keke ketika ia dan Riana sedang merebahkan diri di kasur dan
melihat langit-langit kamar.
"Sejauh
ini baik-baik aja, Ke. Bos gue baik, dan ya biasa Sila yang selalu terobsesi
dengan laki-laki ganteng"
"Hahahahahaha,
udah lama banget gue gak ketemu itu anak. Pasti dia histeris ya ketemu sama
Erik." ya beberapa kali Riana membawa Sila untuk bertemu dengan Keke.
"Hahahahaha,
dia sampe melongo Ke. Jangankan Sila, gue aja melongo ngeliat Erik pertama kali
Keke. Dia beda banget ya?"
"Haha,
iya beda ya. Tambah gagah. Eh, tapi gagahan mana sama bos lo itu, siapa
namanya?"
"Deffian....
hahahahaha dua-duanya sama-sama ganteng, gagah dan yang penting sama-sama
baik."
"Hahahaha....."
Keke tertawa mendengar perkataan Riana
"Deffian
itu punya adik kembar Ke."
"Oia?
Wah seru ya kayaknya punya sodara apa lagi kembar."
"Iya
mungkin, adiknya itu cowo cewe. Yang cewe cantik, ya campuran Belanda
Indonesia. Namanya Amanda." ujar Riana sambil terus menatap langit-langit
kamar.
"Kalau
yang cowo? Ganteng pasti." tanya keke antusias
Riana
menarik nafas panjang. "Gue belum tau tampangnya gimana. Gue baru tau
namanya...... Andrew."
Keke langsung menghadap
berguling miring menghadap Riana, tangan kirinya dia gunakan untuk menopang
kepalanya.....
"Andrew??
Tenang ya Byta, pasti dia bukan..........."
"Gue
gak tau Keke, gue belum ketemu. Gue berharap emang bukan." ucap Riana
dengan keraguan yang jelas terasa diucapannya.
"Gue
gak berani ngebayangin By."
"Me too, gue gak mau hidup bagai di
neraka Ke." ucar Riana sambil mengusap mukanya dengan kedua tangannya.
"Ok
ok, gini. Lo harus berpikir positif ok. Di dunia ini banyak yang namanya
Andrew, ok. Belum tentu itu dia, ok." ucap Keke meyakinkan Riana
"Ok
keke sayang, sekarang tuk ah tidur. besok kita jalan-jalan. Gue udah kangen
sama Bandung.
**********************************
"Ya
tuhan, aku rindu udara kaya gini." ujar Riana sambil merentankan tangannya
menyambut udara pagi.
"Hahaha,
di Jakarta gak ada ya By? tanya Keke terkekeh melihat tingkat Riana."
"Yah,
boro-boro deh." Riana mengendus kesal.
"Yaudah
lo tinggal disini aja lagi, Ri." Ucap Erik enteng.
"Hey
bung enak sekali kau bicara, hah. Bagaimana dengan kerjaanku?" lagi-lagi
Riana mengendus kesal.
Keke dan Erik tertawa
kecil. mereka bertiga sedang sarapan di taman rumah Keke yang luas dan begitu
cantik.
Hari ini
mereka bertiga pergi berjalan sepuas-puasnya, mereka berwisata kuliner,
ketempat bermain, dan berfoto-foto. Ketika mereka berjalan bertiga banyak mata
perempuan yang tertuju pada Erik. Begitu juga pada mata laki-laki yang
memandang Keke, bagaimana tidak Keke merupakan keturunan Indonesia-Turki yang
cantik.
Mereka
bergantian dalam mengemudikan mobil. Ketika Erik yang mengemudikan Riana berada
di sampingnya, dan Keke di jok belakang. Ketika Riana yang yang membawa Keke
lah yang berada di sampingnya dan Erik di belakang. Ketika Keke yang membawanya
Eriklah yang ada di sampin dan Riana tertidur anteng di jok belakang.
Sesampainya
di rumah Keke. mereka tertidur dengan pulasnya di ruang tv. Sampai-sampai Ibu
Keke harus menyelimuti mereka bertiga yang sudah terlelap karena kecapean pergi
seharian. Pagi menjelang Riana dan Erik harus kembali ke Jakarta. Walaupun
sedih keke membiarkan mereka pulang, karena memang besok sudah senin dan mereka
memiliki kesibukan masing-masing.
********************************
"Gimana
long weekendnya cantik." tanya
Sila dengan senyum manis.
"Hemm,
sangat menyenangkan. Akhirnya kita bertiga kumpul lagi kemarin." Riana
menunjukan foto mereka bertiga yang sedang tertawa bahagia.
"Keke
makin cantik aja ya, Ri."
"Iya
dia memang dasarya udah cantik Sil, jadi ya cantik aja, hahaha."
"Kamu
juga cantik kok sayang." Ujar Sila seraya memonyongkan bibirnya yang
hendak menyium Riana.
"Iiiis,
apaan deh Sil geli banget kamu." elak Riana yang menjauhkan dirinya dari
Sila.
"Hahahahahaha......"
tawa Sila terdengar di penjuru ruangan. "Eh iya tadi aku berpapasan dengan
manda, dia nanyain kamu. Aku jawab aja belum datang." lanjut Sila.
"Nyari
aku? Ada apa ya?" tanya Riana heran.
"Wah
wah wah, aku gak tau tuh."
"Pagi
pagi pagi girl. Pasti lagi ngegosip ya." sama Manda yang mengagetkan Sila
dan Riana.
"Hehehehe....
Gak lagi ngegosip kok, Man." Ucap Sila dengan senyuman
"Eh,
nanti kita makan siang lagi ya." ujar Riana bersemangat. Sila mengangguk
dengan semangat.
"Yah
sayang banget gue gak bisa. Gue harus ke bandara." Ucap Manda dengan
menyesal.
"Yah,
kamu mau kemana? Mau balik ke Belanda?" tanya Sila cemas. Riana jadi
mengerutkan keningnya, jangan-jangan.......................
"Haha,
engga gue mau jemput pangeran kembaran gue."
Ya!! Benar saja dugaan
Riana.
"Asiik,
akhirnya datang juga!!" Ujar Sila bersemangat nyaris berteriak.
"Sila,
bikin malu aja deh." omel Riana. Sila hanya menjulurkan lidahnya ke arah
riana lalu tertawa.
Manda
jadi terkekeh, "Ok deh gue ke ruangan kak Deffian dulu ya, bye."
******************************
Di
bandara Amanda terus menunggu kedatangan Andrew. Sampai ia menemukan orang yang
dia cari.
Ya,
pasti kehadiran Andrew menjadi daya tarik perempuan-perempuan tidak terkecuali
kali ini. Dia memiliki mata biru jernih, tatapan tajam, senyuman yang mematikan
yang bisa membuat wanita-wanita terasa terbakar. Rambutnya coklat terang dengan
hidung mancung dan bibir sensual. Tubuh atletis dan tinggi tegap, tak heran dia
disegani laki-laki dan digilai oleh wanita.
"Hay,
sayangku yang cantik." ucap andrew sambil memeluk Amanda dengan erat dan
mencium pipinya mesra. Orang yang tidak tau akan mengira mereka berdua
merupakan pasangan kekasih.
Manda
melepaskan pelukan Andrew, "Very
good. Cuma ya, gak tau kedepannya gimana."
"Hahaha,
tenang honey hari-hari mua pasti akan
lebih berwarna." seringainya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Stop
Andrew tingkahmu sungguh menjijikan. Kau tidak melihat perempuan sekitar sini
menatap ke arak kita." kata Manda sambil melirik kanan kiri. Andrew malah melihat ke sekeliling dan
memberikan senyuman mautnya, membuat Manda jengkel setengah mati kepada Andrew.
Lalu mereka menuju rumah mereka.
***********************************
Malam
tiba di kediaman Rakassa, Daffin baru pulang dari kantornya.
"Hey
kakak tua!!!" ujar pembuat onar, Deffian sudah menghapal suara Andrew.
Deffian enengok
ke asal suara dan menemukan seluruh keluarganya tengah berkumpul, ayah, ibu,
Amanda dan Andrew.
"Ya,
si pembuat onar sudah datang." ujar Deffian dingin, malas meladeni adiknya
itu. Lalu dia merebahkan diri di samping Manda.
"Wehehe, relaxed boy. Masih saja
bersikap dingin, heh?" tanya Andrew dingin. Ya Andrew dan Deffian memang
seperti Tom an Jerry.
"Udah-udah,
kalian udah gede masih aja ribut. Kamu Andrew, kakak mu baru pulang malah
diledek seperti itu." ujar ibu Daffin.
"Mom, dianya aja yang terlalu kaku."
tunjuk Andrew ke arah Deffian yang ada di hadapannya. manda hanya
menggeleng-geleng melihat kedua kakaknya.
"Andrew,
mulai besok kamu pergi kekantor bersama kakakmu." ujar ayah Daffin
tiba-tiba.
"Tapi
Dad, kenapa harus aku. Kenapa
bukannya Manda?" kali ini Andrew menunjuk Manda.
"Hey, watch your mouth!!" ucap Manda
terpancing emosinya.
"Enough. Daddy bilang kamu ya kamu Ndrew.
Kalau kamu gak mau, kamu bail lagi ke Belanda." ujar ayahnya tegas.
"Ok,
ok Dad." Ucapnya seraya
mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Well,
diantara kalian bertiga siapa yang mau menikah?" tanya Ibu mereka. Mereka
bertiga langsung terbelalak mendengar ucapan Ibunya itu.
"Mom!" Teriak mereka bertiga
berbarengan. Ibunya hanya menutup kupingnya.
"Loh
apanya yang salah, Deffian sudah berumur 29, Manda dan kamu Ndrew udah berumur
26. Mommy mau cepet-cepet dapet cucu. Iya gak dad?" tanya Ibu mereka kepada Ayah mereka mencari pembelaan,
yang hanya dijawab anggukan.
"Ya,
yang paling tua disini dong." Kata Andrew sambil melirik Deffian.
"Kenapa
gak lo duluan aja. Kan cewe lo banyak. Ada siapa tun, Bela, Jessy, Lucy, nah
nah yang paling baru siapa tuh lupa gw hemm.... oia Clara" bela Manda
terhadap Deffian, karena omongan Andrew.
Karena
kesal Andrew melemparkan bantal sofa ke arah muka Manda, Deffian hanya tertawa
kecil melihat tingkah adik-adiknya ini.
"Kalau
gue bakalan nikah sama orang yang gue cintai. Dia ada disni." jawab Andrew
seraya mengangket kedua tangannya dam membawanya kepelakang kepala untuk
menopang kelapanya yang bersandar ke belakang. Sontak semua mata memandang ke
arahnya.
"Siapa?"
tanya Ibu dan Manda berbarengan.
"Hemm, secret!! Pokoknya dia ada di Indonesia.
Dan kalau gw Andrew udah nemuin dia, dia gak akan aku lepaskan lagi." ucap
Andrew penuh keyakinan.
'Ya, gak
akan aku lepaskan lagi. Taby, dia gak akan aku lepaskan lagi.' janjinya dalam
hati.
****************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar